Tuesday, April 19, 2011

Lion King Musical in Singapore : You Don't Have To Read My Review

Di awal bulan April 2011 ini, saya dan Ricky Lionardi memutuskan untuk pergi ke Singapura untuk menyaksikan The Landmark of Musical Broadway : Lion King Musical. Ya, Akhirnya tiba juga waktu yang ditunggu untuk saya dapat melihat Nala kembali.



November lalu saya sempat pergi menyaksikan 'A Little Night Music' musical, and I was blown away by the acts. Hal ini tentu saja membuat ekspektasi saya terhadap Lion King menjadi sangat tinggi.


C Reserve, itulah tempat yang kami pilih untuk menyaksikan musikal ini. Memang C Reserve tersedia di lantai atas dan bawah, namun kami memilih yang di lantai bawah dengan harapan, kami bisa melihat penampilannya secara sempurna. Benar saja, menurut saya C dan D Reserve bagian tengah adalah tempat yang paling sempurna untuk menyaksikan penampilan sempurna di Marina Bay Sands Theatre.


Aneh memang, karena C dan D Reserve dijual dengan harga tiket yang lebih terjangkau. Layaknya menonton bioskop, anda pasti malas apabila mendapatkan tempat yang paling depan. Karena anda harus mengikuti pergerakan penampilan dengan menolehkan kepala. Pasti lebih ingin menyaksikannya secara keseluruhan, bukan?



Saya begitu terpukau dengan keindahan kostum dan dekorasi panggung. Kemeriahannya begitu terlihat, dan langsung menarik perhatian. Setiap pergerakan bisa membuat anda terus tersenyum mengagumi apa yang anda lihat di hadapan anda. Julie Taymor benar-benar mengetahui bagaimana memanjakan penonton dengan penampilan yang memukau.


Satu scene yang paling saya sukai, dan membuat saya merinding adalah saat Simba berbicara pada Mufasa, ayahnya, yang ditemui melalui refleksi air. I was in awe, bagaimana Julie Taymor memvisualisasikannya agar para penonton seolah bisa melihat refleksi air yang bisa Simba lihat begitu menakjubkan. Ya, saya berani menggunakan kata 'menakjubkan'.



Satu hal yang dengan menyesal harus saya katakan adalah saya cukup kecewa di babak kedua penampilan musikal ini saat saya menyadari bahwa mereka tidak menggunakan orchestra, hanya band yang ditambahkan dua pemain perkusi, dan sekelompok choir. Saya memang bukan musisi yang ingin memperhatikan ilustrasi musik, namun menurut saya, kemegahan yang digembar-gemborkan seluruh dunia tidak dapat saya tangkap.


Bahkan 'A Little Night Music' yang hanya ditampilkan oleh kelompok yang sangat kecil bisa menghidupkan seluruh penampilan. Saya tidak bisa habis pikir mengapa mereka bisa mengambil resiko untuk mengesampingkan ilustrasi musik. Kemudian Ricky Lionardi berkata, bahwa hal ini mungkin saja terjadi mengingat Lion King sudah terlalu komersil. Berbeda dengan 'A Little Night Music' yang memang memiliki idealisme untuk menampilan "musikal".


People call me, and even myself know for sure, that I'm a big weeper, namun saya tidak merasakan apapun saat menyaksikan musikal ini. Padahal film pertama yang bisa membuat saya menangis adalah Lion King. Bahkan pada saat saya mendengar OST Lion King Musical, jauh lebih "terasa" dibandingkan saat saya menyaksikannya langsung.


Saya pikir hal ini karena mereka tampil di Singapura, namun setelah browsing dan membaca beberapa review, memang Lion King Musical mengurangi (yang kemudian menghilangkan) jumlah pemain orchestra dalam tour mereka. Bisa juga dengan alasan untuk mengurangi biaya keseluruhan. Siapa tahu..



Namun patut diingat, itu pendapat saya pribadi. Banyak orang yang bahkan tidak menyadari atau mempedulikannya. Bagi saya, saya begitu menikmati penampilan yang saya lihat dalam Lion King Musical. Bahkan saya berjanji pada diri saya sendiri, bahwa saya harus menyaksikannya sekali lagi, di New York. Ya, intinya agar saya bisa menyaksikan produksi utuh yang dihasilkan oleh Julie Taymor.

(image: special)






No comments:

Post a Comment