“oy.. oy.. oy.. oy.. oy.. oy.. oy.. kami ini warga asli Belitong”

Sabtu minggu lalu saya mendapatkan kesempatan untuk menyaksikan sebuah drama musikal bertajuk ‘Laskar Pelangi’. Memang ini merupakan adaptasi sebuah novel dan film yang sempat meledak beberapa waktu lalu. Sebenarnya saya kehabisan tiket, namun teman saya berbaik hati memberikan kepada saya secara gratis karena ia kelebihan membeli tiket. She said it’s my Christmas pressie.
Sekedar info, skripsi saya merupaka sebuah penelitian komunikasi simbolik dalam komposisi musik film Laskar Pelangi. Tentu saja hal tersebut membuat saya harus menontn film tersebut ratusan kali. Ya, saya tidak melebih-lebihkan, saya bisa memastikan bahwa saya menonton film tersebut ratusan kali. Hafal? Tentu saja. Namun Laskar Pelangi musikal tetap berhasil membuat saya menitikkan air mata.
Produksi yang ditampilkan sangatlah mengagumkan. Kita mulai dari naskah. Saya hafal mati setiap adegan film Laskar Pelangi, saya sempat berpikir bahwa musikal ini akan berdurasi terlalu lama. Namun, Mira Lesmana berhasil memotong banyak adegan serta menggabungkan beberapa scene secara langsung tanpa menghilangkan esensi cerita serta selentingan penting cerita. Hal ini adalah hal yang amat sangat sulit untuk dilakukan, menjadikan cerita dalam drama musikal menjadi efisien, rapi, dan menyenangkan merupakan sebuah keberhasilan tersendiri.
Musik. Saya sebenarnya sempat kebingungan karena tema dari musik Laskar Pelangi seluruhnya diubah. Seperti bukan cerita Laskar Pelangi. Ternyata hal tersebut tidak menurunkan kualitas, bahkan lagu-lagu yang digubah Erwin Gutawa sangat menyentuh. Seperti contohnya lagu ‘Jari-jari Cantik’. All I can say is just “wow!”.

Para pemain juga memberikan pertunjukan yang paling menarik untuk menutup tahun 2010 dan mengawali 2011. Saat saya menonton, Bu Muslimah diperankan oleh Lea Simanjuntak. Suaranya memang tidak perlu diragukan. Saat Lea sempat berkolaborasi dengan dengan Opustre Big Band (lihat post sebelumnya) di Java Jazz tahun lalu, saya dibuat tercengang oleh kualitas vokalnya. Para pemeran laskar pelangi juga patut diacungi jempol. Di bawah arahan Riri Riza, mereka tampil mengagumkan. Berakting, menyanyi, menari secara langsung dan bersamaan dengan sangat baik di umur mereka yang masih kecil.

Tarian interpretasi yang dibawakan setelah adegan meninggalnya Pak Harfan juga membuat saya merinding. Gabungan antara koreografi dan musik didukung oleh lighting dan elemen lainnya membuat adegan tersebut menjadi adegan yang paling saya ingat dalam pagelaran musikal Laskar Pelangi. Thumbs up for Jay Subyakto & Hartati.

Saya memang bukan ahli dalam tiap bidang di atas, tapi saya adalah seorang yang percaya bahwa apabila sesuatu dilihat baik dan bisa menyentuh, karya tersebut sudah dapat dikatakan baik. Dan musikal Laskar Pelangi, adalah sebuah karya yang sangat baik.
No comments:
Post a Comment