Friday, August 6, 2010

Industri Film / Musik Indonesia : Pedulikah Masyakarakat Tentang Kemajuan Industri Kreatif Ini?

Saya memang bukan seseorang yang bekerja dan bergelut dalam ketiga bidang di atas. Ya, memang saya bekerja pada sebuah perusahaan yang memiliki bussiness unit sebagai music label/distributor dan juga branding house, tapi saya tidak terjun langsung pada area film, musik, ataupun design.

Bukanlah sesuatu hal yang baru diketahui bahwa industri kreatif Indonesia pada bidang-bidang tersebut mengalami kendala yang cukup signifikan. Banyak pihak yang mengatakan bahwa khususnya pada industri film dan musik di Indonesia mengalami kemunduran. Apakah benar? sejujurnya apabila barometer saya melalui tontonan televisi seperti dahsyat dan semacamnya, sinetron stripping, serta poster dan genre film bioskop yang ada, mungkin saya bisa setuju.

Saya bisa langsung menangkap begitu banyak komentar negatif mengenai band rock melayu terbaru ataupun film komedi dengan banyak kehadiran mbak semok mulai tayang di bioskop. (untuk sekarang mungkin keberadaan sinetron sudah mulai dimaklumi sanking banyaknya) Tapi di saat yang sama, label dan PH film yang memproduseri band ataupun film tersebut mendapat kesuksesan yang cukup tinggi. Tanya kenapa?

Saya sadari bahwa yang memberikan komentar negatif itu adalah orang-orang yang tidak ikut ambil bagian dalam pergerakan industri kreatif ini. Hanya memprotes mengapa kualitasnya tidak seperti ekspektasi mereka seharusnya dan tidak berbuat apa-apa. Kesuksesan yang dicapai oleh penyanyi atau band rock melayu, sinetron, dan film komedi/horror dengan penggarapan pas-pas-an adalah karena mereka dapat memenuhi kesenangan. Kesenangan siapa? Konsumen pastinya. Para investor ataupun eksekutif produser hanya mengikuti selera pasar.

Jadi apabila orang seringkali protes mengapa musik atau perfilman Indonesia seperti itu terus, cobalah berkaca pada diri sendiri. Kalau jelek diprotes dengan argumen mengapa kreatifitas Indonesia hanya sampai pada level tersebut, kalau bagus ditonton atau dibeli tidak album atau singlenya??

Bagi yang pernah bertanya atau berpikir mengapa kualitas musik atau film Indonesia tidak mengalami kemajuan, coba pikirkan;
1. Apakah saat ada film Indonesia yang bagus dan digarap secara baik dan maksimal, anda menontonnya?
2. Apakah saat ada lagu atau album dari penyanyi atau band dengan kualitas baik, anda membeli albumnya, download RBT (kalau yang ini agak sulit yah.. hahahaha), atau request lagunya di radio yang suka anda dengarkan?
3. Apakah saat ada program TV yang berkualitas dan mendidik anda menontonnya?

Bila anda kebanyakan menjawab tidak, jangan salahkan mengapa kualitas musik atau film komersil saat ini tidak sesuai ekspektasi atau selera anda. Saya tidak menampik kalau saya juga termasuk orang-orang yang sudah keburu menganggap remeh, tapi tentu saja perubahan harus dimulai dari diri sendiri bukan?

Bukankah anda bisa melihat kemajuan dunia fashion Indonesia? Banyak orang yang menghargai karya yang sangat indah dari para perancang Indonesia, yang kemudian membuat membentuk selera pasar yang baik. Itulah yang seharusnya dilakukan para masyarakat terhadap industri kreatif bidang musik dan film.

Mengapa Hollywood, Bollywood, film Hong Kong, Korea, dan lainnya bisa memproduksi film dengan kualitas yang baik? (Mungkin anda bingung mengapa Bollywood masuk, tetapi ingat film 3 Idiots kan?) Karena para investor yakin bahwa dengan memproduksi film dengan kualitas baik, walaupun penggarapan akan lama dan mengeluarkan biaya banyak, mereka akan mendapatkan sukses yang berlipat. Berbeda dengan di Indonesia, musik atau film dengan penggarapan baik dan maksimal (yang pasti akan mengeluarkan biaya yang besar), belum tentu dihargai seperti yang seharusnya mereka dapatkan. Jadi jangan salahkan apabila para investor merasa takut untuk membuat film bagus yang akan mengeluarkan biaya tinggi, mereka akan merasa lebih menguntungkan untuk memproduksi film ringan, biaya rendah, dan bisa dilakukan waktu singkat.

Saya yakin seribu persen bahwa para musisi dan sineas Indonesia mempunyai selera yang amat sangat baik dan perlu dikembangkan lagi. Para konsumen lah yang membantu mereka untuk mengembangkannya, dengan lebih menghargai karya dengan kualitas yang baik. Dengan begitu para investor percaya untuk berbisnis film dengan kualitas baik. (jangan lupa bahwa segala sesuatunya masih tergantung dari sang empunya duit, kalau para musisi dan sineas memang sudah sangat amat kaya dan bisa memproduksi karyanya sendiri, saya juga yakin kalau industri musik atau perfilman Indonesia sudah maju)

Semua itu tergantung masyarakat yang bisa membentuk selera pasar. Bersedia berkontribusi?

No comments:

Post a Comment