Di post sebelumnya saya menceritakan beberapa jam pertama setibanya saya di Ambon. Dikarenakan di pesawat kami tidak bisa tidur pulas (kecuali Ayah saya :-P), kami memutuskan untuk tidur siang terlebih dahulu. Setelah segar kembali, kami melanjutkan perjalanan ke Pantai Natsepa yang terkenal dengan rujaknya.
(image: Melissa Isakh & Grace Herjawan)
Pantai Natsepa adalah pantai yang cukup terkenal, tidak heran jika pantai ini ramai oleh para penduduk yang mencari hiburan. Ya, hiburan mereka adalah pantai Natsepa ini.
Setelah puas melahap cemilan sore, kami kembali ke hotel untuk mandi dan bersiap ke restoran Sari Rasa. Makan lagi, makan, dan makan lagi!! Saya sebenarnya tidak begitu lapar, jadi saya pikir saya akan makan sedikit saja. Tapi ternyata ikan bakar Sari Rasa sangat tidak mungkin untuk dinikmati dalam porsi yang sedikit. Mereka menyajikannya satu ekor ikan untuk satu orang.
Saya menelan ludah beberapa kali saat saya menulis dan mencantumkan foto dari ikan bakar Sari Rasa. Saya teringat betap nikmat sambal sebagai bumbu dari ikan bakar tersebut. Hari pertama di Ambon ditutup oleh santapan luar biasa tersebut, saya tidak sabar untuk kembali ke Sari Rasa di hari terakhir.
Esok harinya, kami diajak makan siang di gereja Rock setelah mengikuti kebaktian sesi kedua hari Minggu itu. Papeda (sagu kental, seperti gel), itulah menu yang direkomendasikan oleh semua orang yang ada di sana. Saya bukan penyantap segala makanan. Makanan yang saya anggap aneh tidak akan saya makan. Bebek, kambing, burung dara adalah beberapa yang sudah saya anggap aneh.
Tapi kali ini, saya membulatkan tekad saya untuk menyantap papeda yang dicampur dengan Ikan (bumbu) Kuning. Ternyata, enak sekalii!!
Sore harinya, kami kembali ke Warung Kopi Joas untuk menyantap cemilan sore. Kali itu saya memesan kopi dingin, yang secara pribadi saya lebih sukai daripada kopi panas. Tidak lupa sukun dan telur setengah masak.
Kami memilih Tirta untuk menikmati terbenamnya matahari dan ngobrol menghabiskan waktu. Sayang agak berawan, jadi kurang bagus foto yang saya dapatkan. Saat ke Tirta, saya hanya bersama kedua sepupu saya, tidak dengan orang tua. Kami juga sempat mengelilingi kota Ambon secara singkat.
Keesokan harinya, adalah hari terakhir di Ambon, dan hari yang ditunggu-tunggu. Karena kami akan menikmati indahnya pantai dan wisata laut Ambon. Setelah menyempatkan sarapan di Kopi Joas (kopi dingin, sukun, telur setengah masak), kami langsung berangkat.
Laut Banda adalah laut terdalam di Indonesia, itulah sebabnya saat kami menaiki boat warna lautnya biru terang. Pantai yang kami kunjungi pun memiliki suatu partikel yang membuat pasirnya berkilau. Ya, benar-benar berkilau. Indah sekali! Di Ambon juga kali pertama saya diving, dan saya langsung jatuh cinta dengan kegiatan menyelam. Kata-kata tidak bisa menggambarkan pesona yang telah saya lihat. Saya harap, foto-foto ini cukup dapat meggambarkannya.
No comments:
Post a Comment