Monday, July 19, 2010

Kepedulian dan Kontribusi Saya

Beberapa bulan yang lalu, saat saya masih aktif dan duduk di bangku kuliah, sebelum saya menghadiri kelas seminar, saya pergi ke salah satu tempat makan yang berada di dalam kawasan kampus saya, UPH Karawaci. Tempat makan yang saya datangi bukanlah food court ataupun restoran lainnya, melainkan hanya food stall di sebelah gedung Dynaplast.

Karena masih dalam bulan puasa, maka suasana terlihat tidak begitu ramai. Maka tidak sulit bagi saya untuk memperhatikan setiap orang satu persatu. Saat saya sedang melahap mie ayam jamur, datanglah seorang pemuda yang cukup tinggi dan dengan gaya yang nyeleneh. Saya bisa pastikan bahwa dia bukan tipe anak urakan yang tidak memikirkan apa saja yang dia lakukan, melainkan tipe anak pintar yang terkadang menjurus ‘sok tahu’. Dia pun memesan makanannya kepada salah satu pegawai di sana.

Pemuda tersebut kemudian mengambil tempat duduk persis di sebelah saya. -Oia, sebelum kalian berpikir bahwa ini adalah ‘meet cute’ dalam sebuah film drama komedi, saya tegaskan terlebih dahulu, sama sekali bukan. Saya kan sudah punya pacar. (hehe)-

Sesaat kemudian makanannya datang, dan ia terlihat cukup senang melihat santapan makan siangnya. Saya tidak melihat apa yang dilakukan terhadap makanannya, tetapi sesaat kemudian saya melihat dia membuat sebuah cabe rawit yang cukup besar secara sembarangan. Untung saja tidak ada orang di hadapannya. Kalau ada, mungkin orang tersebut akan sangat tersinggung.

Terus terang saja, saya cukup terganggu dengan hal yang dibuatnya barusan. Dan saya bukan tipe orang yang sungkan untuk menegur orang yang membuang sampah seenak jidatnya. Namun, keinginan saya untuk menegurnya saya pendam saja. Karena toh yang dia buang itu kan cabe rawit, yang bisa diurai. Walaupun cukup tahu saja, dia membuangnya di atas batako, bukan tanah ataupun rumput. Hmm….

Namun tak lama kemudian saya sudah tidak bisa lagi menahan diri saya untuk menegurnya. Terlihat seorang pegawainya mengantarkan segelas jus alpukat dengan wadah gelas plastik, lengkap dengan tutup gelas dan sedotan. Karena pemuda tersebut sepertinya sudah terlalu haus, dan ia tahu bahwa meminumnya menggunakan sedotan akan memakan waktu lama, maka ia pun mengeluarkan sedotan tersebut dan membuka penutup gelas, ya kemudian ia taruh (baca: buang) di hadapannya, tepat di sebelah cabe rawit yang juga ia buang sebelumnya.

Saat ia sedang menikmati kesegaran jus alpukat tersebut, dengan nada yang ramah dan senyum yang tulus saya berkata, “mm.. Jangan buang sembarangan kali”.

Saya berusaha mengatakannya seramah mungkin, karena saya juga tidak mau menyinggung sang pemuda tersebut. Namun, air muka dari pemuda tersebut seprtinya berubah. dan sepertinya dia agak tersinggung. Yah apa daya…

Setelah ia meneguk minumannya, kemudian ia menoleh kepada saya dan berbicara dengan senyum dan nada sarkastik
hmm.. kamu tidak mengerti..
saya cukup tersentak karena kaget respon yang diberikan seperti itu. Apalagi ia melakukan
pointing-his-finger-at-me. Yah karena saya memang sayang menegur terlebih dahulu dan saya juga sudah menyiapkan diri saya apabila pihak yang saya tegur akan tersinggung. Kemudian ia menoleh kepada teman yang berada disebelah kirinya dan berkata
dia gak ngerti…

Saya cukup bingung karena sepertinya dia tidak mengerti ucapan saya. Dan yang saya lakukan hanyalah terus memandangnya dan berusaha mengerti apa yang dia ucapkan. Kemudian sambil agak menunduk ke bawah, ia berkata dengan aksen medok,
kamu tuh ga ngerti, saya tuh mau taro di bawah.. nih liat kan. kamu tuh ga ngerti
seraya ia menaruh gelasnya di atas tutup gelas plastik yang sebelumnya ia gunakan. Hmm.. Saya baru tahu kalau ingin menaruh di bawah itu harus dilempar.

Tanpa basa-basi kemudian saya pun berkata lebih ramah, yang juga bisa dikatakan sarkastik.
ohh.. itu cabe rawit juga ditaro di bawah?
Kemudian kedua matanya terpaku kepada satu buah cabe rawit yang ia buang, seolah di dahinya terdapat tulisan modar! . Dan iapun meneruskan santapannya tanpa berkata sepatah kata apapun.

Sesekali saya dengar yaudalah.. tenang.. tenang.. dari kawan pemuda tersebut yang duduk satu setengah meter dari saya. Saya tidak peduli.

Saya pikir, saya akan selesai makan lebih dahulu dari pada dia. Tapi ternyata dia yang terlebih dahulu selesai duluan. Kemudian ia pun mengangkat semua gelas plastik yang sudah kosong dan piring yang telah ia makan. Dan kemudian ia melakukan sesuatu yang bisa memberikan senyuman simpul, ia mengangkat tutup plastik dan sedotan, serta cabe rawit yang ia buang. woww…

Saya tidak merasa puas sama sekali. Memang hal tersebut yang seharusnya dilakukan tanpa harus ditegur orang terlebih dahulu. Saya pikir dia mengetahui kalau dia merupakan pihak yang salah, namun sebelum ia meninggalkan tempat makan, sambil mengangkat tas nya ia berkata,
terimakasih ya ibu mentri kehutanan
dengan nada sarkastik kembali tentunya. Namun temannya langsung meminta maaf kepada saya dan saya pun hanya berkata
iya, gapapa kok. memang harus diberitahu kalau seperti itu
tanpa emosi sedikitpun. Karena saya yakin sekali bahwa temannya juga tahu kalau saya berada di pihak yang benar.

Mungkin memang saya salah dengan menegurnya. Saya pun mungkin akan merasa aneh kalau ditegur oleh orang asing. Saya pun tahu dengan betul bahwa saya bukan orang dalam jajaran mentri atau pejabat tinggi negara bagian lingkungan. Karena saya tahu betul posisi saya seperti itu, maka dalam posisi yang terbatas ini, hanyalah hal tersebut yang bisa saya lakukan untuk memperbaiki mental yang salah dalam diri penerus bangsa ini.

Apa yang bisa kalian lakukan dengan baik untuk memperbaiki hal kecil seperti ini?

ps: tulisan ini telah saya posting di account facebook saya beberapa bulan lalu. berikut komentar teman-teman saya.

No comments:

Post a Comment